Memburu Secuil Hujjah
Oleh: Zainal Arifin
Kilatan cahaya melesat menuruni anak tangga langit. Jauh ia meninggalkan puncak langit ke tuju. Sebuah misi ia emban. Misi sekaligus pengharapan yang muncul atas nama "iba" dan "ketidak tegaan". Tingkat demi tingkat langit telah ia lewati. Sebuah tempat gersang dan tandus yang awalnya terkenal sebagai surganya sebuah bola batu besar yang bernama bumi, akan menjadi tujuan misinya. "Itu dia, akhirnya kutemukan". Tanpa berfikir panjang, kembali wujudnya melesat menyerupai kilatan, membaur dengan milyaran molekul sinar sang surya yang berpendar.
Tempat itu terlihat indah nan menghijau bagi mereka yang hanya mampu memandang dengan bola mata yang sederhana. Akan tetapi tidak baginya, tempat itu lebih nampak seperti bongkahan karang yang memerah. "Mirip tanduk setan yang membentang", gumamnya.
Pemandangan itu menyiutkan nyalinya. Ia teringat peristiwa ketika ia meminta sedikit tenggang waktu untuk mencari secercah kebaikan yang akan ia jadikan sebagai hujjah untuk menangkal keputusan sang Maha Raja, yang akan melumat tempat itu sebagi balak atas kecongkakan dan kesombongan para penghuninya yang senantiasa meremehkannya sebagai Maha Raja yang selama ini telah banyak bermurah hati pada semuanya. Sang Maha Raja pun bertutur "sesungguhnya aku ini lebih mengetahui tentang apa-apa yang tidak kamu ketahui". Akan tetapi karena memang sang Maha Raja mempunyai salah satu sifat yang sangat agumg, yakni sifat maha pemurah dan maha bijaksana, maka iapun diberikan tenggang waktu untuk mencari kemuliaan dan kebaikkan meski sebiji zahrah, sebagai hujjah penolak murka sampai matahari kembali tenggelam di ufuk barat.
"walau seujung rambut yang dibelah menjadi tujuh, aku harus menemukannya". Kembali ia menguatkan tekatnya, karena ia sangat sadar akan berat dan pentingnya misi kali ini. Terus ia menyusuri satu perstau tempat yang disitu ratusan manusia sedang berkumpul. Perhatiannya tertuju pada seorang yang berbadan bulat sedang mengotak-atik timbangan. Karena perutnya yang bulat, sang lelaki bersusah payah jongkok di bawah kolong dagangannya. matanya celingukan kekanan dan kekiri, karena merasa dirinya aman dari pandangan manusia, tanpa sadar bahwa ada sebuah sosok yang sedang mengawasinya, segera ia mengeluarkan beberapa paku dan menempelkannya dibawah takaran timbangan. Kilatan cahaya yang sekarang berubah menjadi sebuah sosok utuh itu mencoba mendengarkan lamat-lamat pergulatan batin dari si tambun. "persetan dengan dosa!, apa peduliku tentang dosa, kalau memang ini dosa biarlah aku yang menanggungnya nanti di neraka". Sosok itu tersentak dengan apa yang barusan didengarnya dari pedagang tambun itu. Gemetar ia mendengarkan kalimat terakhir itu. tak bisa ia bayangkan makhluk selemah dan sekerdil ini berani menantang neraka. Dialihkan pandangannya keseluruh penjuru tempat yang semakin lama manusia semakin mengerumuninya itu. Semakin banyak makhluk manusia yang berdatangan ketempat itu, semakin ia mencium bau busuk yang menyengat. Aroma keringat yang keluar dari tubuh yang berlumuran dosa kebohongan dan penipuan yang diramu dengan berbagai macam teriakkan teriakkan yang keluar dari moncong-moncong mulut yang sudah berubah hampir menyerupai mulut serigala, membuatnya muak dan trauma untuk menghampiri tempat serupa.
Ia kembali melesat berubah kembali menjadi sebuah kilatan, kini semakin kencang ia melesat, bagaikan peluru senapan yang memburu mangsanya.
"disinilah mungkin aku bisa menemukannya, sebuah tempat yang penuh dengan kerja keras dan keuletan, mirip apa yang telah di contohkan para kekasih Maha Raja dalam menyampaikan risalahnya".
Belum sempat ia tersenyum lega, sebuah drama kedurhakaan dan pembangkanagan ia saksikan, mungkin inilah sebuah pembangkangan yang sudah menjadi hal yang biasa dan lumrah. Seruan pengabdian telah di dengaungkan tapi tidak satupun dari mereka yang mau beranjak meninggalkan sawahnya. Tempat-tempat peribadatan itu dibiarkan kehausan jama'ahnya. Bersabar ia menunggu, untuk menanti manusia barang seorang pun untuk menunaikan kewajiban penghambaan kepada tuhannya. Tapi tak satupun ia menjumpai manusia yang melakukan kewajiban penghambaan terhadap penciptanya. Sampai waktu seruan terampas kemurkaan.
Sosok itu geram dibuatnya. Ia mencoba mendekati seoarang lelaki paruh baya dengan tubuh yang dibalut Lumpur sedang mencambuki sapinya. Sapi itu terlihat kaget karena kedatangan sosok dari langit itu. Meski binatang ini nampak kaget atas kedatangannya, tapi ketiaka sapi itu ditanya "apakah pemandangan yang aku lihat ini berlangsung setiap hari?", dengan bersemangat sang sapi seolah ingin menumpahkan seluruh keluh kesahnya, menjawab dengan anggukan. Sedangkan tumuh-tumbuhan di sekitarnya turut menambahkan keluh kesahnya. "Wahai engkau, ketahuilah kami sudah terlau muak untuk menuruti keinginan para manusia yang tidak pernah mengenal rasa terima kasih ini". "ya aku sudah bosan untuk menampung beban para makhluk pembuat kerusakan ini" sahut bumi yang tidak kalah ketusnya.
Sosok itu semakin merinding membayangkan betapa kemurkaan yang teramat besar, yang akan ia saksaikan.
Ia kembali melesat, mencoba mencari setiik hujjah yang akan ia jadikan penangkal murka itu. kembali ia melesat dengan semakin cepat. Entah kemana lagi ia harus mencarinya. Dari atas matanya menangkap sebuah tempat yang terdapat berbagai macam bangunan yang menjulang.
"Disinilah mungkin aku bisa menemukannya. Tentunya bangunan-bangunan yang menjulang itu telah membeikan tanda akan majunya sebuah peradaban makhluk yang bernama manusia, dan peradaban tidak akan maju tanpa ilmu, dan dimana ada ilmu disitu pasti akan aku dapatkan kebaikan yang aku cari".
Segera ia menuju tempat yang berjejer bangunan-bangunan mewah dan elit, sangat kontras dengan beberapa tempat yang telah ia jelajahi. Pandangannya tertuju pada sebuah tempat yang terpampang sebuah simbol Negara dan bendera yang berkibar-kibar di permainkan angina. Ia melihat satu persatu setiap manusia yang masuk ketempat itu, semuanya berkendaraan mewah dengan setelan jas dan celana yang tampak sangat elegan, dengan lilitan dasi di leher manusia-manusia itu berjalan penuh keteraturan. Nampak sangat berpendidikan. Akan tetapi betapa kagetnya ketika ia melihat satu persatu manusia-manusia itu keluar dengan wajah-wajah yang sangat menyeramkan. Ada yang berwajah kera, babi, bahkan ia melihat sosok lelaki yang berwajah merah dan memiliki tanduk dengan mata yang bulat pipih ke atas, mirip dengan mekhluk yang menjadi musuh bebuyutannya yakni setan. Terakhir kali ia melihat sosok manusia berwajah anjing, dasi yang tadinya melambangkan intelektual dan ke-eleganan, sekarang nampak mencekik dan menjerit-jerit sambil mengumpat sang pemakai yang nampak santai dan tenang seperti tidak merasakan apa-apa.
Kembali bayang-bayang titah penghancuran suatu kaum, membuatnya semakin menggigil. Hampir semua tenaga telah ia kerahkan, tapi Sedikitpun ia tidak menemukan hujjah itu. ia mencoba memutar fikiran untuk mencari dimana hujjah itu akan ia temukan.
Lama ia merenung. Fikirannya tertuju pada sebuah tempat yang ia masih ingat betul ketika belasan abad yang lalu tempa-tempat itulah yang paling ia gemari untuk singgah sekedar melihat wajah-wajah ceria yang selalu meluncur kalimat-kalimat mulia. Wajah-wajah para calon penghuni surga. Pintu harapan kembali terbuka. Ia seolah-olah menemukan jalan menuju pengampunan itu. segera ia memecah langit yang mulai berubah kuning keemasan.
"itu tempatnya", gumamnya penuh keceriaan. Cahaya hujjah pengampunan semakin benderang, fikirnya. Akan tetapi lagi-lagi ia menelan kekecewaan. tempat yang dulunya penuh kerumunan para calon penghuni surga nampak lengang tak terjamah. Satu persatu ia menelusuri tempat-tempat suci, tapi semuanya kosong tak berpenghuni.
Ditengah keputusasaan dan kepasrahannya, lamat-lamat ia mendengar suara manusia yang sedang berkumpul dalam sebuah tempat suci. "inilah mungkin jalannya yang terakhir", membatin ia sambil memandang langit yang mulai berubah kuning kemerahan. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Dan murka itu semakin dekat. Segera ia menuju sumber suara.
Ternyata memang benar suara itu datang dari sebuah tempat yang dulunya ia sangat gemar singgah di dalamnya. Bayangan kitab-kitab suci yang di agungkan oleh orang-orang yang hatinya suci segera tergambar dibenaknya.
Segera ia masuk ketempat itu. benar, ia dapati tempat itu terjejer kitab-kitab suci yang nampak rapi dan bersih. Dan disekitarnya berkerumun beberapa manusia yang sedang melakukan sebuah perkumpulan. "syukurlah, akhirnya murka yang akan mengerat jutaan nyawa dapat kutemukan penangkalnya". Segera ia mendekat ke kitab suci yang berjejer sangat rapi. Entah karena memang para pemiliknya yang terbiasa hidup rapi dan bersih seperti apa yang telah dipraktekkan sang penyampai risalah, ataukah memang rapi dan bersih lebih disebabkan karena kitab-kitab tersebut tidak pernah di jamah manusia.
"siapakah engkau?", sapa sang kitab. "Apakah penting bagimu untuk mengetahui siapa aku?", "entahlah, tapi siapapun engkau aku sangat berharap supaya engaku bukanlah makhluk seperti manusia". Sosok itu tersentak dengan jawaban sang kitab. "bukankah engkau selalu menjumpai manusia-manusia yang suci dan paripurna?". "memang dulu aku sangat di muliakan, betapa aku selalu di lafatkan dan diagungkan sebagai kalam ilahi, petuah-petuah yang ada di dalam diriku di jadikan sebagai pegangan hidup dan sangat diperhatikan. Akan tetapi itu dulu, ketika tangan agung sang nabi masih mendekap erat, serta para sahabat yang mulia selalu mengorbankan dirinya sebagai perisai untuk menjaga kehormatan dan keagunganku, tapi sekarang….", sosok itu mulai dihinggapi kegetiran.
angin membujuk kebinasaan, menunggu sebuah adegan yang mungkin nantinya akan meninggalkan bekas sejarah teramat panjang dan mendalam. Gedubrak…!, belum sempat sang kitab suci melanjutkan ucapannya, terdengar suara hantaman yang cukup keras. "Apa maumu hai pak jenggot, apakah dengan jenggotmu yang panjang itu kamu sudah merasa paling benar dan paling bisa masuk surga?!" seorang laki-laki tua dengan kopyah putih menghardik bapak paruh baya yang berjenggot. Pak jenggot tidak mau kalah "dasar ahli neraka, tidakkah engkau sadar bahwa apa yang engkau ajarkan dan engkau kerjakan sekarang semuanya bid'ah?!", "hai bau kencur apa yang engkau tahu tentang agama?!, sehingga engkau bisa mengatakan aku ahli neraka!, apakah neraka itu milikmu?!, ketahuilah berbagai kitab telah aku khatamkan, islamku jauh lebih dulu dari pada kamu, bagaimana kamu bisa mengecapku ahli bid'ah?!". Pak tua dengan peci putih kebesarannya makin garang, dengan berkacak pinggang darahnya semakin memuncak. "engkau akan menyesal atas ucapanmu. karena engkau akan melihat aku masuk surga duluan bersama nabi dan para wali, dan aku akan menyuruh malaikat penjaga surga supaya menyetopmu dan para pengikutmu untuk masuk surga", suasana semakin memanas.
Rumah suci itu berubah mirip tempat sabung ayam. Ada pertarungan dan beberapa pendukung yang saling menyoraki. "lihatlah adegan ini!, aku terlalu muak menyaksikan semua ini setiap hari, mintalah kepada tuhan supaya menyegerakan murkanya".
Geram dan ngeri menyelimuti sosok itu. Heran ia dibuatnya betapa manusia-manusia ini telah menganggap dirinya lebih mulia daripada para kekasih tuhan sang penyampai risalah. "Bagaimana mereka bisa begitu mudah menjustifikasi ahli neraka dan surga?, memangnya neraka dan suraga milik nenek moyang mereka". ia tidak bisa membayangkan bagaimana makhluk-makhluk yang kecil dan hanya mampu menadah belas kasih dibawah kolong langit yang membentang luas ini mampu menyombongkan diri dan congkak di hadapan tuhan.
Dalam hitungan menit matahari akan temggelam. Angin menderu semakin kencang bau kamboja semakin menyengat bagi siapa saja yang mencium udara di senja itu. Sebuah drama paling mengerikan akan segera disuguhkan. Sebab sang pemberi keputusan telah terlalu lama untuk bersabar.
Segera sosok itu melesat meninggalkan teriakan-teriakan manusia yang saling bersaautan, "air bah…!, air bah…! Ada air bah…!". Gulungan ombak yang kelihatan seperti gunung melumat tak tersisa. Nampak pula olehnya bumi yang tadinya mengeluh kesah, sekarang meraung-raung mengeluarkan seluruh isinya. Burung-burung besi yang nampak gagah kehilangan keseimbangannya, oleng, dan hanguslah seluruh isi ratusan jasat didalamnya. Ngeri ia melihat kebesaran sang Maha Raja yang telah terlalu lama bersabar. Kembali terbayang-bayang olehnya ucapan sang Maha Raja "sungguh aku lebih mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui".


Tidak ada komentar:
Posting Komentar